::: Selamat datang di Media MUI Lampung Online "Suara Ulama dan Zu'ama untuk Umat" ::: Kritik, saran, artikel, dan iklan dapat dikirim ke email: redaksi@mui-lampung.or.id
Home / Breaking News / Gubernur Lampung Tak Izinkan Shalat Idul Adha di Zona Merah dan Oranye

Gubernur Lampung Tak Izinkan Shalat Idul Adha di Zona Merah dan Oranye

Bandar Lampung: Dalam upaya menekan peningkatan Covid-19 di Provinsi Lampung, Gubernur Lampung Arinal Djunaidi telah mengeluarkan edaran Nomor: 045.2/2477/02/2021 tentang Penerapan Protokol Kesehatan dalam Rangka Penyelenggaraan Hari Raya Idul Adha dan Pelaksanaan Qurban Tahun 1442 H/2021 M di Provinsi Lampung.

Dalam edaran yang mengacu pada SE Menteri Aga Nomor 15 Tahun 2021 ini, Gubernur Arinal tidak mengizinkan pelaksanaan Shalat Idul Adha di lapangan, masjid, dan mushala yang berada pada zona merah dan oranye.

“Shalat Hari Raya Idul Adha 10 Dzulhijjah 1442 H/2021 M dilaksanakan di lapangan terbuka atau di masjid dan mushala, sedangkan untuk zona merah dan oranye ditiadakan,” tegas gubernur dalam edara tertanggal 5 Juli 2021 ini.

Shalat Hari Raya Idul Adha bisa digelar di daerah yang dinyatakan aman dari Covid-19 atau di luar zona merah dan oranye berdsarkan penetapan pemerintah daerah, dan Satuan Tugas Penanganan Covid-19 setempat.

Dalam hal salat Hari Raya Idul Adha dilaksanakan di lapangan terbuka atau di masjid, sebagaimana dimaksud pada angka 3, wajib menerapkan standar protokol kesehatan Covid-19 secara ketat, dengan ketentuan sebagai berikut shalat Idul Adha dilaksanakan sesuai dengan rukun salat dan penyampaian khutbah Idul Adha secara singkat, paling lama 15 menit, Jama’ah salat Idul Adha yang hadir paling banyak 50% dari kapasitas tempat agar memungkinkan untuk menjaga jarak antar shaf dan antar Jama’ah.

Gubernur meminta pada semua stakeholder untuk dapat melakukan pemantauan pelaksanaan surat edaran tersebut secara hierarkis melalui instansi yang ada di bawahnya. Dalam hal terjadi perkembangan ekstrem Covid-19, seperti peningkatan signifikan angka positif Covid-19, maka surat edaran tersebut disesuaikan dengan kondisi masing-masing kabupaten/kota.

Selain terkait dengan shalat Id, Gubernur juga menyampaikan terkait dengan pelaksanaan qurban. Dalam hal ini, pelaksanaan kurban agar memerhatikan ketentuan sebagai berikut:

Penyembelihan hewan kurban berlangsung dalam waktu tiga hari, tanggal 11, 12, dan 13 Zulhijjah untuk menghindari kerumunan warga di lokasi pelaksanaan kurban, Pemotongan hewan kurban dilakukan di Rumah Pemotongan Hewan Ruminasia (RPH-R).

Dalam hal keterbatasan jumlah dan kapasitas RPH-R pemotongan hewan kurban dapat dilakukan di luar RPH-R dengan protokol kesehatan yang ketat, Kegiatan penyembelihan, pengulitan, pencacahan daging, dan pendistribusian daging kurban kepada warga masyarakat yang berhak menerima, wajib memerhatikan penerapan protokol kesehatan secara ketat, seperti penggunaan alat tidak boleh secara bergantian.

Kegiatan pemotongan hewan qurban hanya boleh dilakukan oleh panitia pemotongan hewan kurban dan disaksikan oleh orang yang berkurban dan pendistribusian daging kurban dilakukan langsung oleh panitia kepada warga di ternpat tinggal masing-masing dengan meminimalkan kontak fisik satu sama lain. (Muhammad Faizin)

About admin

Check Also

LDC UIN Raden Intan Adakan Pendidikan Dasar

Bandar Lampung: Law Debate Community Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung (UIN RIL) …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »