::: Selamat datang di Media MUI Lampung Online "Suara Ulama dan Zu'ama untuk Umat" ::: Kritik, saran, artikel, dan iklan dapat dikirim ke email: redaksi@mui-lampung.or.id
Home / Breaking News / Opini: Menjadi Entrepreneur Muslim

Opini: Menjadi Entrepreneur Muslim

Menjadi Entrepreneur Muslim
Nirwan Hamid, M.Pd.I
Pengurus MUI Kota Bandar Lampung
Sekretaris MWC NU Tanjung Senang 

Islam memberikan perhatian yang cukup besar terhadap kesejahteraan hidup ummatnya. Islam tidak hanya mengajarkan kepada pemeluknya untuk beribadah mahdah, tapi juga sangat mendorong ummatnya untuk bekerja keras meraih kesejahteraan hidup duniawi. Kendati demikian bukan berarti betapapun kerasnya usaha yang dilakukan harus selalu dalam bingkai Hukum Islam. Allah Swt dalam Surat At-taubah berfirman:

وَقُلِ اعْمَلُوْا فَسَيَرَى اللهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُوْلُهُ وَالْمُؤْمِنُوْنَ وَسَتَرَدُّوْنَ اِلىَ عَلِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَدَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ

Artinya: “dan katakanlah, bekerjalah kamu maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”. (Qs. At-taubat: 105)

Dalam sejarah Islam, Nabi Muhammad Saw telah menunjukkan bahwa Beliau adalah seorang wirausahawan sejati yang menjalankan usahanya hingga ke mancanegara. Dalam kitab Musnad Imam Ahmad Juz 4 dan The History Of Islam dikabarkan bahwa, pada usia 12 tahun, Nabi Muhammad Saw telah pergi ke Syria, berdagang bersama pamannya Abu Thalib. Kemudian, ketika pamannya meninggal dunia, beliau tumbuh dan berkembang sebagai wirausahawan yang mandiri dengan melakukan perdagangan keliling kota Makah dengan rajin dan penuh dedikasi pada usahanya sampai pada akhirnya dipercaya oleh seorang janda kaya, pemilik modal terbesar ketika itu yang bernama Khadijah ra. Untuk menjalankan bisnisnya. Kecerdasan Nabi Muhammad Saw sebagai seorang wirausahawan telah mendatangkan keuntungan besar bagi Khadijah, karena tidak satupun jenis bisnis yang ditangani Nabi Muhammad Saw mengalami kerugian. Lebih kurang dua puluh tahun Nabi Muhammad Saw berkiprah sebagai seorang wirausahawan sehingga Beliau sangat dikenal di Syria, Yaman, Basrah, (iraq), Yordania, dan kota-kota perdagangan di jazirah Arab.

Karakter yang diajarkan Rasulullah Saw dalam menjalankan bisnis dan harus dipegang teguh oleh para pengusaha Muslim antara lain sebagai berikut:

Pertama, Shiddiq yang berarti berkata benar atau jujur. Dalam kata lain, jujur adalah satunya kata dan perbutan. Orang yang bersikap jujur berarti tidak ada kontradiksi dan pertentangan yang disengaja antara ucapan dan perbuatannya. Dalam sebuah hadits diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim, Rasulullah Saw bersabda:

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى اِلىَ اْلبِرِّ وَاِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى اِلىَ الْجَنَّةِ وَاِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيْقاً وَاِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فإِنّ الْكذِبَ يَهْدِي اِلَى اْلُفجُوْرِ وَالْفُجُوْرُ يَهْدِي اِلىَ النَّارِ وَاِنَّ الرَّجلَ لَيَكْذِبَ حَتَّى يُكتبَ عِندَ اللهِ كَذَّابًا.

      Artinya: “Hendaklah kalian berlaku jujur, sebab kejujuran itu akan menghantarkan kepada kebaikan. Dan kebaikan itu akan mengantarkan kedalam surga. Dan seseorang senantiasa berlaku jujur, dan membiasakan diri dengan kejujuran, hingga dicatat disisi Allah sebagai seorang yang jujur. Dan hendaklah kalian menjauhi sifat bohong, karena sifat bohong akan menghantarkan kepada keburukan dan keburukan akan menghantarkan ke neraka. Dan seseorang senantiasa berlaku bohong hingga ia dicatat di sisi Allah sebagai pendusta  ”

(HR. Bukhori dan Muslim)

Bentuk kejujuran dalam berbisnis antara lain adalah pemberian informasi ataupun penjelasan yang benar kepada konsumen terkait keunggulan produk dan sekiranya terdapat cacat dan kelemahan maka disampaikan secara benar dan transparan. Pengusaha yang jujur berpandangan bahwa harta tidak akan bertambah dengan berlaku curang sebagaimana juga tidak akan berkurang karena berlaku jujur.

Kedua, Amanah artinya dapat dipercaya, bertanggungjawab dan kridebel. Orang yang amanah memiliki komitmen untuk memenuhi kewajiban sesuai dengan ketentuan. Orang yang amanah senantiasa memberikan setiap hak kepada pemiliknya  tanpa mengurangi sedikitpun, baik sedikit maupun banyak. Diantara bentuk amanah dalam bisnis adalah tidak mengurangi takaran dan timbangan dari barang-barang dagangannya, sehingga tidak merugikan konsumen, selalu menepati janji baik kepada rekan bisnis, pelanggan ataupun pihak rekanan.

Ketiga, Fahonah artinya cerdas atau memiliki intelektualitas yang tinggi. Intelektualitas adalah anugrah yang diberikan Allah kepada manusia, tidak kepada mahluk-majluk lainnya. Dengan intelektualitas manusia dapat memperoleh ilmu pengetahuan dan ide-ide kreatif inovatif yang sangat berguna dalam menjalani kehidupan. Adapun implikasi Fathonah dalam berbisnis adalah segala sesuatu aktifitas didasari dengan pertimbangan yang matang, tidak asal-asalan dan dijalankan secara profesional. Intelektualitas juga melahirkan ide-ide inovatif yang bermanfaat dalam menciptakan nilai tambah untuk meraih keunggulan sehingga dapat memenangakan persaingan. Dengan kecerdasan, seorang pebisnis juga dapat dengan cermat memprediksi situasi persaingan depan dengan kemajuan teknologi yang begitu pesat.

Keempat, Tabligh artinya komunikatif. Orang yang memiliki sifat komunikatif akan menyampaikan sesuatu gagasan dalam format yang sesuai dengan kondisi ummat sehingga dapat dengan mudah dipahami. Allah Swt berfirman dalam surah Ibarahim ayat 4:

وَمَا اَرْسَلْنَا مِنْ رَسُوْلٍ اِلَّابِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ فَيُضِلُّ اللهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِى مَنْ يَشَاءُ وَهُوَالْعَزِيْزُاْلحَكِيْمُ

 Artinya: “Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dialah Tuhan Yang Maha Kusa lahi Maha Bijaksana”. (QS. Ibrahm:4)

Pengertian, “berbicara dengan bahasa kaumnya” pada ayat tersebut memiliki makna yang luas. Bisa dalam bentuk wilayah, lingkup tingkat intelektual, maupun lingkup profesi. Pengertian dalam bentuk wilayah adalah misalnya orang Cina hendaknya diajak bicara bahasa Cina, orang Rusia diajak bahasa Rusia. Pada lingkup intelektualitas misalnya orang-orang berpendidikan diajak bicara bahasa ilmiah, sedangkan orang awan diajak dengan bahasa sederhana yang mudah dipahami. Pada lingkup pebisnis hendaknya diajak bicara tentang bisnis. Dalam dunia bisnis, wirausahawan haruslah menjadi komunikator yang mampu mengkomunikasikan visi dan misinya dengan benar kepada investor, mitra bisnis, karyawan dan stakeholder. Seorang pemasar harus mampu menyampaikan keunggulan-keunggulan produknya denga jujur, benar dan tanpa menyinggung perasaan pelanggan. Kelima, Toleran yaitu sikap memberi kemudahan pihak-pihak terkati dalam menyelesaikan kewajiban-kewajibannya dan berupaya menghilangkan kesempitan dan kesusahan yang dihadapi saudaranya.

Wallahul Muwafiq Ila Aqwamittorieq

Wassalamu ‘Alaikum Warahmatullah Wabarokatuh

About admin

Check Also

Pelajar Lampung, Siapkan Video Kreatif

Bandar Lampung: Pelajar SMA Sederajat di Lampung siapkan video pendek kreatif untuk mengikuti lomba tingkat …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »