::: Selamat datang di Media MUI Lampung Online "Suara Ulama dan Zu'ama untuk Umat" ::: Kritik, saran, artikel, dan iklan dapat dikirim ke email: redaksi@mui-lampung.or.id
Home / Breaking News / Opini: Manajemen Diri dan Produktifitas Kerja

Opini: Manajemen Diri dan Produktifitas Kerja

Manajemen Diri dan Produktifitas Kerja

Oleh : Harto Wibowo

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

Keteraturan dalam mengarungi kehidupan adalah bagian dari ajaran Islam yang seyogyanya disadari bagi seluruh umat manusia tanpa kecuali, kita adalah bagian dari umat manusia itu yang wajib menjalankannya. Alam dan seisinya yang diciptakan Allah SWT adalah bentuk salah satu keteraturan yang sehingganya antara satu dengan yang lainya selalu dalam keadaan harmonis, sebagaimana firman Allah SWT;

Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini Pertemuan (mu) dengan Tuhanmu. (QS; ar-Ra’d : 2)

Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon korma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir. (QS; ar-Ra’d : 4)

Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak[669]. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui. (QS; Yunus : 5)

[669] Maksudnya: Allah menjadikan semua yang disebutkan itu bukanlah dengan percuma, melainkan dengan penuh hikmah.

Demikian Allah SWT Berfirman dalam keterangan di atas yang sesungguhnya kita wajib memahami, betapa keserasian yang membuat alam sehingganya seimbang antara satu dengan lainya, “…… Dia menacapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl : 15) coba kita bayangkan seandainya Allah SWT Sang Maha Pengatur serta Perkasa (Yaa Aziz) dan dengan segala sifat-Nya, tidak mengatur kehidupan alam dengan segala isinya seperti dikatakan dalam Qur’an Surat an-Nahl : 15 “…gunung-gunung di tancapkan, …. Yang mengisaratkan bahwa kesimbangan alam ini diantaranya Allah SWT menciptakan gunung-gunung dan lautan, selain juga seluruh alam jagat raya dan seisinya termasuk atom-atom serta virus yang tidak terlihat kasat mata, merupakan ciptaan Allah SWT yang kesemuanya itu bertasbih semata-mata karena tunduk dan patuh hanya kepada Sang Maha Pencipta.

Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu. (QS; 2 : 29)

Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. (QS; Al-Israa : 44)

Perlu kita ketahui bahwa dalam pandangan ajaran Islam, segala sesuatu harus dilakukan secara rapih, benar, tertib, dan teratur (manajemen) Proses-prosesnya harus diikuti dengan baik sehingganya hidup dalam keteraturan akan menjamin bagi umatNya sukses dunia dan sukses diakherat. Sesuatu tidak boleh asal-asalan atau sekedar-sekedar tapi harus dilakukan dengan iklas dan diniatkan semata-semata mohon ke-Ridhoaan Allah SWT. Hal ini merupakan prinsip utama dalam ajaran Islam. “Rasulullah SAW, bersabda dalam sebuah hadits yang diriwatkan Imam Thabrani, “Sesungguhnya Allah sangat mencintai orang yang jika melakukan sesuatu pekerjaan, dilakukan secara Itqan (tepat, terarah, jelas dan tuntas).” (HR Thabrani)

Setiap pekerjaan yang baik, hendaknya dimulai dengan menyebut asma Allah, dari bangun tidur sampai kita akan tidur kembali, banyak yang kita harus lakukan ingat bukan sekedar-sekedar tapi diniatkan dengan iklas untuk selalu menyebut asma Allah, rutinitas keseharian yang selalu ada silih berganti siang dan malam pada setiap keadaan, membuat kita terkadang lupa bahwa kita hidup tidak melulu tersibukan dengan urusan dunia tapi disamping itu kewajiban kita selaku hamba Allah SWT harus tetap konsisten (Qonaah) menjalankan syariat-syariatnya agar hidup bisa lebih bermakna. Bermakna yang dimasud bahwa bagi orang-orang yang berakal tentunya tidak menyia-yiakan karena hidup cuma sekali di dunia ini. Itu artinya seberapa pentingkah kita diperlukan oleh orang-orang disekitar kita sehingga hidup cuma sekali ini tidak sia-sia,

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang

terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (QS; 3 : 190)

Seiring dengan seberapa jauh kita bisa memenej diri (manajemen diri) seberapa pentingkah hidup ini untuk orang lain, itu artinya hidup tidak melulu mementingkan diri sendiri tapi juga untuk orang lain agar hidup lebih bermakna, yang ditandai dengan seberapa cerdaskah kita bisa mengatur diri agar aktifitas kerja (produktifitas kerja) baik kerja formal dan non formal bisa lebih efektif dan efisien  sangat ditentukan seberapa jauh kita pandai mengatur waktu, kita semua  sama dikasih waktu oleh Allah SWT, yakni dari pagi sampai sore dan kepagi lagi selama 24 jam, dengan ilustrasi sebagai berikut; katakanlah untuk ibadah wajib sholat 5 waktu kita perlu waktu 5 jam, 5 jam ini sudah titambah zikir dan ibadah sunnah lainya sehingga yang tersisa 19 jam, kemudian untuk istirahat (tidur dll) 8 jam sehingga tersisa 11 jam, nah waktu yang ada di luar sholat wajib dan sunnah serta istirahat (tidur) tinggal 11 jam, itu artinya antara sholat wajib dan ibadah sunnah belum seimbang yakni masih banyak istirahat-nya (tidur) dari pada ibadahnya. Pertaanyaannya bagaimna dengan waktu yang tersisa 11 jam itu ?…. Sehingganya Allah SWT berfirman;

  1. Demi masa.
  2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
  3. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.( QS; Al-Ashr 1-3)

Dengan merujuk kepada surat Al-Ashr di atas seyognya kita semua diberi teguran oleh Allah SWT, bahwa “Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal dan nasehat manasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”

Dengan waktu yang tersisa 11 jam seperti yang telah di-ilustrasikan diatas, persoalan berikutnya apakah kita banyak berbuat amal kebaikan atau berbuat dosa tinggal tergantung kita masing-masing, inilah yang dimaksud bagaimana kita bisa menejemen diri sehingga produktifitas kerja tidak sia-sia. Yang perlu kita ingat masing-masing bahwa kita semua akan diminta pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT, apa saja yang telah diperbuat waktu kita hidup didunia yang fana ini.

Maka Apakah kamu mengira, bahwa Sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami? (QS; 23 : 115)

Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)? (QS; 75 : 36)

Hakikat Umur

Karena kita semua tidak tahu kapan kita akan dipanggil Allah SWT, seyogyanya hidup ini tetap dalam kesadaran berbuat baik, sehingga apa yang dikatan orang bijak bahwa hidup adalah pilihan menjadi keniscayaan, bahwa kita harus bisa memilih. Sebagaimana ilustrasi di bawah ini;

“Sekarang aku bisa merasakan aku memegang kendali atas perasaanku. Bila aku bisa meras tidak tenang, tentu saja aku juga bisa memilih untuk merasa tenang. Sekarang aku membayangkan dan merasakan memori-memori terbaik yang membahagianku,….. Bila aku pernah bahagia, aku bisa bahagia lagi. Sekarang aku menguasai perasaanku seutuhnya demi kebahagian dan kesuksesanku”.(dedy susanto)

Bahagia adalah kondisi menerima kenyataan dan mensyukurinya sebagai proses pendewasaan

Al Hasan Al Bashri berkata, “Wahai anak adam, engkau berada di antara dua sisi. Bahaya pagi dan siang tidak akan hilang hingga engkau mendatangi akhirat, bisa saja menuju surga, dan bisa saja menuju neraka. Maka manakah yang lebih berbahaya bagimu?!”

Yang perlu kita sadari dari kehidupan ini ialah, baik atau buruknya prilaku pada setiap individu sangat tergantung pada bagaimana kita bisa memelihara keberlangsungan hidup dengan baik terhadap individu lainya (social) lainya adalah sejauh mana hubungan kita terhadap Allah SWT (HambluminauAllah), yang berarti hak-hak Allah SWT dan kewajiban kita selaku hambanya harus dipenuhi dengan sangat baik dalam artian segala syariat-syariat yang telah di contohkan oleh baginda Nabi Muhammad SAW dipraktekkan;

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah. (QS; 33 : 21)

Dan Sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.( QS; 68 : 4)

Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, Amat belas kasihan lagi Penyayang terhadap orang-orang mukmin. (QS; 9 : 128)

Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota Maka adalah untuk Allah, untuk rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang Kaya saja di antara kamu. apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya. (QS; 59 : 7)

Kualitas manusia atau tumbuhan setelah dewasa nanti, sangat ditentukan oleh proses pemeliharaan atau bekal yang diterimanya dari sejak dini. Kualitas manusia di dunia, ditentukan sejak mulai berada dalam perut ibunya. Si calon ibu ini memakan makanan yang bergizi agar kelak bayinya sehat. Kemudian bayi tersebut diberinya makanan yang baik. Selanjutnya, anak ini dilengkapi dengan gizi dan bekal pendidikan yang cukup. Disekolahkan yang tinggi, sehingga pada akhirnya ia menjadi orang. Tidak cukup hanya seseorang menjalani proses seperti diatas lalu bisa dikatakan sukses, ternyata masih banyak lagi yang kita perbuat, sehingga apa yang dikatakan hidup adalah pilihan merupakan keniscayaan sebagaimana Allah SWT berfirman;

Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah[767]. Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan[768] yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (QS; 13 : 11)

———————————————————————————————————————————————[767] Bagi tiap-tiap manusia ada beberapa Malaikat yang tetap menjaganya secara bergiliran dan ada pula beberapa Malaikat yang mencatat amalan-amalannya. dan yang dikehendaki dalam ayat ini ialah Malaikat yang menjaga secara bergiliran itu, disebut Malaikat Hafazhah.

[768] Tuhan tidak akan merobah Keadaan mereka, selama mereka tidak merobah sebab-sebab kemunduran mereka.

Berikut kata-kata bijak yang disampaikan oleh Dedy Susanto;

“Dalam hidup selalu ada pergantian, dari sedih ke bahagia, dari bahagia kembali sedih, lalu bahagia lagi. Ikhlaskan menjalaninya”.

Bersyukur untuk hari ini. Bersyukur untuk napas hidup yang masih tersambung. Bersyukur,… bersyukur, …. bersyukur

Hidup mustahil tidak berkonflik dengan orang lain karena ada perbedaan kepribadian. Dengan diri sendiri saja sering ada konflik batin

Kata bijak yang disampaikan diatas merupakan bagian motivasi kita untuk tetap semangat dalam mengarungi hidup yang fana ini. Agar hidup lebih bermakna serta membawa keberkahan seyogyanya kita memahami makna ayat-ayat Al-Qur’an dan kata-kata bijak di atas.

Berikutnya terlepas kegiatan keduniaan rutinitas keseharian yang kita lakukan, jangan lupa bahwa kita di tuntut untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban yang di syariatkan dalam agama Islam (Kitab Suci Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW)

Apabila telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.

“bersegerahlah kamu mencari rezeki, dan berusahalah mencari keperluan hidup, maka sesungguhnya berpagi-pagi mencari rezeki itu adalah berkat dan keberuntungan” Riwayat Ibu ‘Ady dari Aisyah

Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS; 9 : 105)

Segungguhnya hari kiamat itu akan datang aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan. (QS; 20 : 15)

Banyak hikmah yang didapat dan bahwa sesungguhnya kehidupan ini akan silih berganti mari kita semua menuju kepribadi-pribadi yang baru, banyak berkarya sebanyak-banyaknya dan beribadah lebih khusyu lagi serta beramal lebih ikhlas lagi, sehingga kita bukan termasuk manusia yang merugi. Wallahualam

 

About admin

Check Also

Harapan Ketua Umum MUI Lampung pada Kapolda Baru

Bandar Lampung: Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Lampung KH Khairuddin Tahmid mengungkapkan bahwa …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »