::: Selamat datang di Media MUI Lampung Online "Suara Ulama dan Zu'ama untuk Umat" ::: Kritik, saran, artikel, dan iklan dapat dikirim ke email: redaksi@mui-lampung.or.id
Home / Breaking News / Lakpesdam PWNU Lampung Fasilitasi Kemandirian Ekonomi di Talangsari

Lakpesdam PWNU Lampung Fasilitasi Kemandirian Ekonomi di Talangsari

Lampung Timur: Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Lampung sukses menggelar tiga pelatihan kepada masyarakat Talangsari di Desa Rajabasa Lama, Kecamatan Labuhan Ratu, Lampung Timur, Minggu (13/12/2020). Tiga pelatihan yang dilaksanakan ialah pelatihan percetakan dan kreatifitas media, pelatihan peternakan dan pertanian, dan pelatihan inovasi produk unggulan masyarakat.

Ketiga pelatihan tersebut merupakan tindak lanjut dari temu stakeholder, Minggu (29/11/2020) lalu. Sebagai pelaksana dari program Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia (RI), Lakpesdam PWNU Lampung telah sukses dengan tiga pelatihan sesuai keinginan masyarakat setempat. Ketiga pelatihan tersebut telah dibagi tiga tempat dengan masing-masing peserta 30 orang.

Narasumber pada pelatihan produk unggulan masyarakat, Latif langsung mengajak masyarakat langsung praktik membuat tapis. Ia berbagi ilmu terkait desain atau motif tapis modern. “Ada motif melati, gajah, naga, siger, dan lainnya,” ujar pemilik Sanggar Tapis Bidadari ini.

Adanya motif tapis modern ini diharapkan dapat meningkatkan daya jual pengrajin tapis Talangsari. “Kalau tapis adat, masyarakat setempat sudah banyak yang pandai. Penggunaan tapis adat juga biasanya hanya untuk acara tertentu,” ujar Latif.

Dengan praktik langsung, Latif berharap masyarakat bisa langsung memahami detail proses pembuatan tapis modern. Ia juga mendorong masyarakat Talangsari untuk memasarkan tapis melalui pasar online dan media sosial. “Jika tapis adat sudah ada, tapis modern sudah ada, tinggal memasarkannya agar produk unggulan setempat bisa semakin maju,” kata dia.

Latif mengajak masyarakat Talangsari untuk selalu berinovasi. Ia membimbing masyarakat setempat agar mampu membuat tapis yang bisa dipakai semua usia dan golongan. “Buat tapis yang bisa digunakan semua kalangan,” ujar pria pemilik Sanggar Tapis Bidadari ini.

Ia juga mengajak masyarakat praktik langsung membuat tapis dengan aneka motif, seperti logo-logo organisasi, tulisan, kaligrafi, dan lainnya. “Bidik semua pasar, selalu kenalkan tapis keunggulan Talangsari pada setiap kesempatan,” tegas Latif.

Narasumber pelatihan percetakan dan kreatifitas media, Maskut Candranegara dalam pemaparannya mengatakan, saat ini semuanya serba digital. Ia menerangkan bagaimana menggunakan media sosial dengan baik dan benar. “Masyarakat bisa mempromosikan Talangsari dengan keunggulannya melalui media sosial,” ujar Maskut.

Media sosial juga sangat lengkap. Masyarakat bisa memanfaatkan media sosial untuk berjualan produk unggulan masyarakat. “Unggah produk unggulan Talangsari, pasarkan di Facebook, Instagram, Whatsapp, dan lainnya,” kata dia.

Pemaparan Maskut langsung diteruskan dengan pelatihan percetakan oleh Erzal Syahreza Aswir. Pemilik Milenial Printing ini menuturkan, saat ini sudah banyak pesaing dalam jasa percetakan. Ia menegaskan, dalam persaingan untuk tidak bersaing dari segi harga. “Jangan saingan diharga, nanti keuntungannya makin sedikit, sementara tim butuh biaya semakin banyak,” ujar Erzal.

Menurut dia, menyikapi persaingan yang ketat harus mengutamakan kualitas. Kualitas percetakan yang dihasilkan dari usaha harus terbaik dan memiliki ciri khas tersendiri. “Misal percetakan kertas, kualitas printing harus jelas, tajam dan tidak mudah luntur,” kata alumni Universitas Lampung ini seraya mempraktikkan secara langsung.

Narasumber lainnya, owner Banana Milk dan Banana Hot, Midahtul Usroh menerangkan bahwa dirinya juga dari kampung, yaitu Punduh Pidada, Pesawaran. Usai lulus kuliah, ia pulang kampung dan melihat banyak pisang di kampungnya. “Saya melihat peluang, pisang di kampung saya harus diberi inovasi,” ujar alumni Fakultas Pertanian Universitas Lampung ini.

Akhirnya, kata Mida, saat ini produknya sudah sampai luar Sumatera bahkan luar negeri. Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) ini menerangkan bahwa tidak ada usaha yang instan. “Saya memulai usaha dari nol, promosi lewat teman ke teman,” ujar Mida.

Lebih lanjut, kata dia, saat ini media promosi juga sudah sangat banyak. Ada media sosial yang bisa dimanfaatkan sebagai sarana promosi yang gratis dan memiliki jangkauan luas. “Unggah saja produk kita melalui media sosial, orang dimanapun bisa melihatnya,” ujar Mida.

Pemateri lain, praktisi pertanian Suranto menerangkan Talangsari memiliki lahan yang luas dengan kondisi tanah yang bagus. Masyarakat pun tidak perlu jauh-jauh mencari pupuk untuk pertaniannya. “Pupuk terbaik di dunia pertanian adalah pupuk kandang kambing, disini sudah sangat banyak,” ujar Suranto.

Kemudian, kata dia yang perlu digaris bawahi dalam pertanian ialah kemauan dan kekompakan. Kemauan harus dilakukan oleh diri sendiri, sementara kekompakan ialah dengan menanam jenis tanaman dengan jumlah yang banyak agar mempermudah penjualan. “Kita harus pandai-pandai melihat peluang yang ada,” kata dia.

Pada tiap kelompok pelatihan ini terdiri dari 30 orang peserta yang merupakan masyarakat Talangsari. Usai pelatihan ini, masyarakat akak tetap diberi pelatihan secara online maupun offline. Tiap kelompok pelatihan juga akan dibuatkan grup Whatsapp untuk memudahkan komunikasi dan koordinasi. (RLS)

About admin

Check Also

Gelar Baksos, PGRI Pringsewu Serahkan 500 Paket Sembako Lebih untuk Korban Banjir di Pardasuka

Pringsewu: Sebagai bentuk kepedulian kepada sesama khususnya warga yang terdampak bencana banjir di Kecamatan Pardasuka beberapa …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »