::: Selamat datang di Media MUI Lampung Online "Suara Ulama dan Zu'ama untuk Umat" ::: Kritik, saran, artikel, dan iklan dapat dikirim ke email: redaksi@mui-lampung.or.id
Home / Agenda MUI Lampung / Opini: Hakekat Peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw

Opini: Hakekat Peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw

Hakekat Peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw
Dr. H. A. Khumaidi Ja’far, S.Ag., M.H.
Dosen Fakultas Syari’ah UIN Raden Intan Lampung
Pengurus MUI Provinsi Lampung

            Berbicara tentang maulid nabi tentunya mengingatkan kepada kita akan jejak, napak tilas kehidupan dan perjuangan Nabi Muhammad SAW sebagai nabi akhir zaman yang membawa khabar gembira dan peringatan untuk umat manusia. Nabi Muhammad SAW merupakan manusia teladan yang dihadirkan oleh Allah SWT untuk diteladani sebagai pembawa risalah untuk perbaikan akhlak manusia, hal ini sebagaimana firman Allah SWT dalam surat al-Ahzab ayat 21 yang artinya: Sungguh telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah.

Hukum memperingati maulid nabi adalah boleh dan tidak termasuk bid’ah dhalalah (mengada-ada yang buruk) tetapi termasuk bid’ah hasanah, yaitu sesuatu yang baik. Sehingga tidak ada dalil-dalail yang mengharamkan peringatan maulid nabi, bahkan apabila ditelusuri justru terdapat dalil-dalil yang membolehkan. Bid’ah hasanah adalah sesuatu yang tidak dilakukan nabi tetapi perbuatan itu memiliki nilai kebaikan dan tidak bertentangan dengan al-Qur’an dan hadis. Kebolehan peringatan maulid nabi memiliki alasan yang kuat, seperti Rasulullah merayakan hari kelahiran dan penerimaan wahyunya dengan cara berpuasa setiap hari senin, hal ini sebagaimana hadis yang artinya: Dari Qotadah al-Anshori RA, sesungguhnya Rasulullah SAW pernah ditanya mengenai puasa hari senin, lantas Rasulullah menjawab: pada hari itu aku dilahirkan dan wahyu diturunkan kepadaku. (HR. Muslim).

            Menurut KH. Quraish Shihab bahwa maulid nabi dirayakan pada zaman Dinasti Abbasiyah, khusunya pada masa kekhalifahan al-Hakim Billah, di mana inti perayaan maulid nabi adalah  untuk memperkenalkan Nabi Muhammad SAW kepada setiap generasi sehingga dapat mengenal dengan Nabi Muhammad SAW. Lebih jauh KH. Said Agil menegaskan bahwa peringatan maulid nabi merupakan sunnah taqririyah, yaitu perkataan dan perbuatan yang tidak dilakukan Nabi Muhammad SAW tetapi dibenarkan dan tidak dilarang oleh Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad SAW memperingati kelahirannya dengan puasa di hari senin, di mana ketika ditanya oleh sahabat: kenapa engkau berpuasa ya Rasul? Aku berpuasa karena pada hari itu dilahirkan dan pada hari itu aku mendapatkan wahyu pertama kali. Bahkan dalam kitab Fathul Bari juz 11 dijelaskan bahwa gembira dengan kelahiran nabi dapat memberikan manfaat yang besar, bahkan orang kafir pun dapat ikut merasakan kemakmuran. Contoh, Abu Lahab paman Nabi, beliau dapat keringan dosanya setiap hari senin.

            Lantas apa  keistemewaan memperingati maulid Nabi Muhammad SAW? Tentunya dalam rangka meneguhkan kecintaan kita kepada Nabi Muhammad SAW, hal ini sebagaimana hadis yang artinya: Dari Anas RA, dari Rasulullah SAW bahwasanya beliau bersabda barangsiapa yang mencintai sunnahku, maka sungguh ia telah mencintaiku, maka ia bersamaku di surga. Dalam hadis lain menegaskan bahwa barangsiapa mengaku cinta Rasulullah tanpa mau mengikuti perilaku beliau, maka ia adalah seorang pembohong. Sebagai wujud kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, tentunya dapat diwujudkan dengan berbagai acara, seperti pembacaan barzanji (riwayat hidup nabi), ceramah agama dan membaca sholawat. Mengenai pentingnya membaca shalawat Allah SWT telah menjelaskan dalam surat al-Ahzab ayat 56 yang artinya: Sesungguhnya Allah dan para Malaikat-Nya bershalawat untuk nabi, wahai orang-orang yang beriman bershalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya. Dalam hadis juga dijelaskan yang artinya: Dari Aisyah ia berkata: Barangsiapa mencintai Rasulullah SAW, maka ia memperbanyak membaca shalawat kepada beliau, adapun buahnya adalah memperoleh syafa’at beliau dan dapat menyertai beliau di surga.

            Adapun keistemewaan membaca shalawat adalah: pertama, Barangsiapa membaca shalawat 1000 kali dalam sehari, maka ia tidak akan meninggal sebelum dijanjikan untuknya surga. Kedua, Barangsiapa membaca shalawat 100 kali dalam sehari, maka Allah akan memenuhi 100 hajatnya, yakni 70 hajat untuk di akhirat dan 30 hajat untuk di dunia. Ketiga, Barangsiapa membaca shalawat 10 kali di pagi hari dan 10 kali di sore hari, maka ia akan mendapatkan syafa’at di hari kiamat. Keempat, Barangsiapa yang menjadikan shalawat sebagai amalan sehari-hari, maka akan dapat mengubah kehidupannya menjadi lebih berkah dan urusan menjadi lebih mudah. Selain itu dengan bershalawat juga dapat mengangkat derajat, do’a akan mudah dikabulkan dan hidup akan menjadi lebih tenang.

            Mudah-mudahan kita termasuk umat-umat yang senantiasa mencintai Rasulullah dengan senantiasa memperbanyak bershalawat, mengikuti jejaknya dan meneruskan perjuangannya. Wallahualam Bishawab.

About admin

Check Also

Struktur Lengkap MUI Periode 2020-2025

Jakarta:  Sidang formatur tujuh belas orang diantaranya Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin (Ketua) Dr. H. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »