::: Selamat datang di Media MUI Lampung Online "Suara Ulama dan Zu'ama untuk Umat" ::: Kritik, saran, artikel, dan iklan dapat dikirim ke email: redaksi@mui-lampung.or.id
Home / Breaking News / Resensi Buku: Langgam Kerinduan Untuk Kiai Najib Mlangi

Resensi Buku: Langgam Kerinduan Untuk Kiai Najib Mlangi

Resensi Buku: Langgam Kerinduan Untuk Kiai Najib Mlangi
Oleh:
Akhmad Syarief Kurniawan

Buku ini merupakan kisah-kisah para santri dan jamaah bersama almaghfurlah KH Najib Salimi, ketika beliau masih mengasuh Pesantren Al Luqmaniyah Kelurahan Pandeyan, Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sebuah buku yang wajib dibaca oleh seluruh keluarga besar Al Luqmaniyah baik santri, alumni, jamaah maupun simpatisan. Isinya menarik dan dikemas ringan dalam bentuk cerpen, tapi akan banyak hikmah yang didapat. Pembaca akan dibawa kedalam kenangan bersama almarhum semasa hidupnya melalui kisah-kisah yang tertulis.

KH Najib Salimi lahir pada Selasa Pon, 5 Januari 1971 di Mlangi Nogotirto, Gamping, Sleman, Yogyakarta. Ayahnya bernama KH Salimi Mambaul Ulum dan ibunya bernama Nyai Hj Bunyanah. Sang Ayahanda adalah seorang Kiai sepuh kharismatik yang sangat teguh dan keras memegang prinsip yang diyakininya. Tak heran jika beliau sangat disegani baik dilingkungan masyarakat maupun didepan para penjabat.

Silsilah leluhur KH Najib Salimi baik dari jalur Ayah maupun Ibu akan bertemu pada seorang wali masyhur berdarah raja kraton yaitu BPHR (Bendara Pangeran Haryo Raden) Sandiyo atau yang lebih dikenal dengan nama Simbah Kiai Nur Iman, hal. 6.

Kiai Najib kecil, pertama kali mendapatkan bimbingan ilmu agama langsung dari kedua orang tuanya. Sehingga ilmu-ilmu dasar Tajwid dan Nahwu sebagai jembatan mempelajari Al Quran, Hadits dan Kitab Kuning, telah kokoh tertanam sebagai pondasi sebelum menerima ilmu-ilmu yang lain.

Tahun 1985, segera setelah beliau menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasarnya, Kiai Najib muda berangkat menuntut ilmu memperdalam ilmu agama di Pesantren API Tegalrejo Magelang, Jawa Tengah, dibawah asuhan langsung KH Abdurrahman Chudlori dan KH Ahmad Muhammad Chudlori.

Setelah 7 tahun lamanya nyantri di Pesantren API Tegalrejo Magelang Jawa Tengah, pada tahun 1992 Kiai Najib muda kembali ke Mlangi membantu ayahanda dalam mengelola Pesantren Assalimiyah yang terlah lama dirintis oleh sang ayah.

Di Pesantren Assalimiyah sendiri, jamaah pengajian dan santri semakin banyak. Agar keberadaan Pesantren semakin dirasakan manfaatnya, maka KH Najib berinisiatif mendirikan KODESAMATA (Koperasi Distribusi Ekonomi Santri dan Majelis Taklim), sebagai pemrakarsa otomatis beliau menduduki posisi Ketua, hal. 17.

Pada 1 Juli 1999, KH Najib Salimi menikah dengan Siti Hamnah, putri dari KH Chudlori Abdul Aziz pengasuh Pesantren Al Anwar Ngrukem, Kabupaten Bantul, Propinsi Derah Istimewa Yogyakarta.

Tak lama setelah pernikahan itu, yaitu ketika sang istri mengandung 7 bulan, beliau diamanati untuk mengasuh Pesantren Al Luqmaniyah sang ayah. Segera keluarga kecilnya diboyong ke lokasi Pesantren yang berada ditengah kota itu.
Bagi Izzun Nafroni, santri asal Magetan, Jawa Timur, Abah Najib Salimi adalah sosok Kiai yang penuh perhatian. Tak hanya kepadaku, beberapa kali kudengar Abah juga bertanya perihal kuliah, perkembangan skripsi dan segala hal yang berkaitan dengan pendidikan santrinya. Perhatian luar biasa yang beliau berikan kepada kami. Abah tidak ingin santri-santrinya mengecewakan orang tua. Tentu saja agar tidak menyia-nyiakan usaha orang tua dalam menguliahkan mereka, hal 33.

Abah adalah sang pengasuh, bagi Durotun Nafisah Harun, santri sekaligus lulusan Sastra Arab UAD Yogyakarta ini. Abah Najib mengajarkan kami untuk total dalam mengemban amanah, bukan hanya sekedar jalan atau grudak-gruduk saja. Pun juga mengajarkan kepada kami bahwa memang selalu ada resiko kecil dalam sebuah perjuangan. Selalu ada pengorbanan yang harus ditebus untuk sebuah kesuksesan, hal. 65.

Lain halnya dengan M. Hariwijaya, santri pengajian malam Selasa Abah, baginya Abah Najib mengajarkan banyak hal, salah satunya hidup sederhana. Abah Najib telah menunjukkan hidup tidak harus mewah bergelimang kemewahan. Tujuan untuk membentuk santri yang tangguh, tidak harus memanjakan dengan fasilitas, hal. 164.

KH Najib Salimi wafat pada tanggal 30 September 2011 pada usia 40 tahun, dimakamkan di Dusun Mlangi, Desa Nogotirto, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Propinsi Derah Istimewa Yogyakarta. Lahul Faatihah.

IDENTITAS BUKU :

Judul : Mengenang dan Meneladani KH Najib Salimi Based On True Stories
Penulis : Lidyana Istianti, dkk
Penerbit : Elmatera Publishing, Yogyakarta
Terbit : Mei, 2017
Tebal : xv + 225 Halaman
Nomor ISBN : 978-602-6549-08-2
Peresensi : Akhmad Syarief Kurniawan,
Pegiat LTN NU Lampung Tengah

About admin

Check Also

Resensi Buku: Melawan Lupa, Jangan Lupakan Pergerakan Buruh

Resensi Buku: Melawan Lupa, Jangan Lupakan Pergerakan Buruh Oleh Akhmad Syarief Kurniawan Konfederasi Sarikat Buruh …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »