::: Selamat datang di Media MUI Lampung Online "Suara Ulama dan Zu'ama untuk Umat" ::: Kritik, saran, artikel, dan iklan dapat dikirim ke email: redaksi@mui-lampung.or.id
Home / Breaking News / Khutbah Idul Adha: Syariat; Qurban dan Haji

Khutbah Idul Adha: Syariat; Qurban dan Haji

 

Khutbah Idul Adha: Syariat; Qurban dan Haji
Dr. Agus Hermanto, M.H.I
Dosen UIN Raden Intan Lampung

 (الخطبة الأولى)

السّلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر,

الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر

الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر

الحمد لله الذى جعل شهر رمضان، صياما في النهار, وقياما في الليل، وأنزل الله القرآن، ووقع ليلة القدر. الحمدُ للهِ الَّذِى جَعَلَ يومَ عيدِ الفطرِ يَومَ السُرورِ, أحلّ اللهُ الطعامَ وحرّمَ الصيمِ, . أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه. الَّذِى خَصَّ عِبَادَهُ بِخَيْرِ كِتَابٍ أُنْزِلَ وَأَكْرَمَهُمْ بِخَيْرٍ نَبِىٍّ أُرْسِلَ وَجَعَلَهُمْ بِالإِسْلاَمِ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ يَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ وَأَتَمَّ عَلَيْهِمُ النِّعْمَةَ بِأَعْظَمِ دِيْنٍ شَرَعَهُ اللهُ لِعِبَادِهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ الِّذِى أَدَّى الأَمَانَةَ وَنَصَحَ الأُمَّةَ وَجَاهَدَ فِى اللهِ حَقَّ جِهَادِهِ وَتَرَكَهُمْ عَلَى المِلَّةِ الحَنِيْفَةِ السَّمْحَةِ وَعَلَى الطَّرِيْقَةِ الوَاضِحَةِ الغَرَّاءِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّ يْنِ. أما بعدُ

فَيَا عِبَادَ اللهِ!  أُوْصِى نَفْسِى وَأَنْتُمْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ, إِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

قال الله تعالى فى كتابه الكريم:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا. وقال أيضا: يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Jama’ah shalat Idul Adha yang dimulyakan Allah!

Mulai dari tadi malam, sampai pada pagi hari ini, suara kumandang takbir semakin menggema, kalimat takbir, tahmid, tahlil terdengar begitu nyaring untuk mensucikan, memulyakan, membesarkan Allah subhanahu wa ta’ala. Hal ini, tidak lain bertujuan untuk selalu meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah swt., Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahilham.

Jama’ah shalat Idul Adha yang dimuliakan Allah!

          Ketika bulan Ramadhan, kita diperintahkan untuk melaksanakan ibadah puasa selama satu bulan penuh, dengan melatih kesabaran, ketabahan, kepekaan rasa, kesehatan jasmani dan rahani kita dengan tujuan mencapai ketaqwaan kita kepada Allah, maka sesungguhnya ibadah haji dan qurban juga bertujuan untuk menggapai ketaqwaan kita kepada Allah.

Jama’ah shalat Idul Adha yang dimuliakan Allah!

Pada saat ini kita berada di satu hari yang dimuliakan Allah yaitu Idul Qurban dan di tiga hari tasyrik, dimana pada hari ini, dihalalkan oleh kita makanan dan diharamkan bagi kita untuk shiyam. Hari ini adalah ahri yang bahagia, walaupun sisa-sisa penderitaan kita pasca covid 19 belum juga sirna, semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmatnya kepada kita semua.

Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahilham.

Pada hari raya Idul Adha ini, ada dua syari’ah yang telah diajarkan kepada kita semua melalui baginda Rsul tercinta sebagai tapak tilas dari perjalanan para nabi terdahulu dalam menjalani segala ujian yang diberikan oleh Allah swt., untuk menjadi insan yang mulia, syariat yang pertama adalah qurban dan syari’at yang kedua adalah Haji, kedua syari’at ini bertujuan untuk meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah swt.

Sesungguhnya Islam datang bukan di ruang yang hampa, namun Islam datang di tengah-tengah degradasi umat yang bobrok, yang ketika itu disebut masa Jahiliyah, masa jahiliyah bukanlah karena manusianya yang bodoh, tapi karena miskinnya akhlak, sehingga baginda Rasulullah saw., diperintahkan untuk menyempurnakan akhlak (Innama bu’istu li utammima makarimal akhlak)

Di antara miskinnya akhlak itulah mereka melupakan agama yang hanif, yang dibawa oleh baginda Nabi Ibrahim as.,untuk  menyembah Allah, berqurban untuk Allah, berhaji untuk Allah, justru mereka kembali menyembah berhala, dengan meletakkan patung-patung Lata dan Uzza di sekitar Ka’bah, meninggalkan ajaran Isa as., justru mereka menyembah Isa dan menganggap Isa as., sebagai Tuhannya. Allahu Akbar, walillahilham.

Ibadah qurban merupakan syari’at pertama yang diajarkan di hari raya Idul Adha, sebagaimana firman Allah swt.,

Inna A’thaina kal kautsar (sesungguhnya telah aku berikan kepadamu Muhammad surge al-Kautsan), kalimat atha-yu’thi, merupakan bentuk fiil yang berarti memberi, kalimat memberi biasanya adalah untuk sesuatu yang tidak banyak atas apa yang kita miliki, begitu juga sesungguhnya Allah telah memberikan kenikmatan itu tidak banyak bagi Allah swt., namun sesungguhnya sangat banyak bagi kita, fashalli lirabbika wan har, (dan shalatlah atas nama Tuhanmu dan berkurbanlah), Allah telah memrintahkan kepada kita untuk shalat dan berkurban, shalat yaitu perintah shalat Idul Adha dan berqurban pada saat Isdul Adha dan hari-hari tasyrik, Innasyani akahuwal abtar, (sesungguhnya orang-orang yang membenci Muhammad maka akan terputus), terputus yang dimaksud adalah terputusnya rahmat Allah kepada mereka, dan terputusnya nasab mereka kepada nenek moyang mereka, karena sekali-kali tidak pernah terukir dalam sejarah al-Qur’an.

Allah swt., berfirman tentang manfaat qurban dalam surat al-Hajj ayat 37

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.

Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahilham,

Adapun syari’at yang kedua yang telah ditetapkan keberadaannya adalah ibadah haji, sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah swt.,

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلا رَفَثَ وَلا فُسُوقَ وَلا جِدَالَ فِي الْحَجِّ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّـقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الألْبَـابِ

“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.” (QS. Al Baqarah:197).

Pada tahun sebelumnya, berkisar antara 2,5 juta jiwa umat Islam diseluruh penjuru dunia di bulan ini sedang melaksanakan ibadah Haji, tanpa membedakan ras, golongan, kultur, warna kulit dan sebagainya, mereka bersama-sama menggunakan pakaian yang sama, berbaju putih tanpa berjahid dengan bertawaf sambil melafadzkan kalimat (labbaik, Allahumma labbaik, labbaikka la syarika laka labbaik, innalhamda, wannikmata, laka walmulku la syarikalak), kunci kedamaian itu terdapat dalam kalimat (wala rafasa, wala fusuqa, wala jidala), namun pada saat ini harus terttunda dengan adanya wabah corona yang sedang melanda dan menggoncangkan dunia, walaupun sudah mulai normal dalam keberadaannya

Ibadah Qurban dan haji merupakan tapak tilas dari perjalanan para Nabi-Nabi Allah yang mulia, yang dijelaskan dalam al-Qur’an, yang merupakan syari’at sebelum datangnya syari’at Islam (syar’u man qablana),

Jama’ah shalat Idul Adha yang dirahmati Allah!

Tujuan disyariatkannya qurban dan haji adalah tercapaianya kemaslahatan dan menghindarkan kemudharatan, jika ditinjau maqasid al-syari’ah adalah:

  1. Menjaga agama, bertakbir, bertahmid, bertahlil termasuk melaksanakan perintah Allah seperti menyembelih qurban, melaksanakan haji adalah termasuk menjaga Agama Allah. Pelaksanaan haji dan qurban adalah sesuatu yang tidak terbantahkan di kalangan ulama, karena nashnya sungguh jelas perintahnya.
  2. Menjaga jiwa, jiwa manusia selalu rakus akan urusan duniawi, dengan berkurban dan dengan berhaji, maka sesungguhnya terpeliharanya dari sifat bakhil dan akan terwujud keikhlasan kepada Allah. Sehingga pada waktu kita melaksanakan haji, kita dilarang membunuh, berbuat kejahatan, fasik, berbantah-bantahan ketika melaksanakan ibadah haji. Kalau saja mereka tidak menjaga jiwa mereka, pasti akan terjadi perdebatan, pertikaian, maupun perkara lain yang dapat mengancam jiwa.
  3. Menjaga akal, sungguh mulia pelaksanaan haji dan qurban ini, karena dengan sangat tertib dilaksanakan, misalnya pelaksanaan setahun sekali dan tidak setiap hari, penyembelihan qurban yang telah ditentukan ukuran binatangnya, misalnya kambing di atas satu tahun jika akan kita tidak sehat, bisa saja kambing itu dibuat powel (giginya telah lepas) atau dikatakan sudah satu tahun padahal belum.
  4. Menjaga nasab, dengan berqurban sesungguhnya menjaga nasab baik nasab binatag yang diqurbankan dengan ketentuan satu tahun misalnya kambing, maka akan menjaga dari kepunahan, selain itu juga sebagimana dikatakan dalam surat al-Kautsar, bahwa orang-rang yang mengolok-olok pada nabi Muhammad termasuk umatnya, maka ia akan terputus dari Rahmat allah dan akan terputus dari nasab mereka, sehingga tidak pernah tercatat dalam sejarah.
  5. Menjaga harta, dengan kita berqurban, maka sesungguhnya kita teruji dari harta yang kita miliki, harus kita qurbankan demi mengharapkan ketaqwaan kita kepada Allah.

Ada pelajaran besar dibalik pelaksanaan Haji dan qurban, di antara hikmah yang dapat kita ambil adalah, keteladanan Nabi Ibrahim as., yang secara demokrasi dan sabar menerima ujian dari Allah swt., ketaatan nabi Isma’il yang dengan keikhlasannya karena allah, ia rela diqurbankan atau menjadi qurban, dimana orang-orang pada saat itu, selalu mengurbankan binatang dan sejenisnya untuk Tuhan-tuhan mereka.

Dalam saat ini, ia diperintahkan yaitu Ibrahim sebagai Khalilullah (kekasih Allah) yang kala itu mendapatkan fitnah terlalu cinta pada anaknya, Allah mengujinya dengan diperintahkan untuk menyembelih, anak satu-satunya yang dilahirkan dari berpuluh-puluh tahun ia tidak memiliki anak, itupun ia qurbankan demi ketaatannya kepada Allah swt.

Sebuah reseach mengatakan bahwa, menyembelih binatang dalam syari’at Islam adalah harus menggunakan lafadz Jalalah (bismillah) agar binatang yang disembelihnya menjadi halal dan mendapatkan barokah. Selain itu juga, tidak diperkenankan untuk memotong seluruh lehernya, atau terputus antara badan dan kepalnya, ternyata ketika kepala dan badan tidak terputus, ketika sakaratul maut, saraf otak masih dapat bekerja menyutuh jantung untuk bekerja dan dapat menghembuskan darah keluar dari sseluruh badanya, sehingganya daging tersebut menjadi seteril dari darah yang kemungkinan akan ada virus atau penyakit. Wallahu ‘alam.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ                                                                                       

(الخطبة الثانية)

الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر,

الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر

الحَمْدُ ِللهِ الَّذِى تَتِمُّ الصَّالِحَاتِ , وَأَشْهَدُ أَنْ لا إِلهَ إِلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ , اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ,

فَيَا عِبَادَ اللهِ!  أُوْصِى نَفْسِى وَأَنْتُمْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ, إِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ ، وَثَنَّى بِمَلاَئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ ، فَقَالَ تَعَالَى وَلَمْ يَزَلْ قَائِلاً عَلِيْمًا ، تَنْبِيْهًا لَنَا وَتَعْلِيْمًا ، وَتَشْرِيْفًا لِنَبِيِّهِ وَتَعْلِيْمًا “إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَااَّلذِيْنَ آمَنُوْ ا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا”

اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وعلى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِي العَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ الأحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَقَاضِيْ الحَاجَاتِ وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ , اللّهُمَّ لا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لايَخَافُكَ وَلا يَرْحَمُنَا , اللّهُمَّ انْصُرِ المُجَاهِدِيْنَ الَّذِيْنَ يُجَاهِدُوْنَ فِي سَبِيْلِكَ فِي كُلِّ زَمَانٍ وَمَكَانٍ, اللّهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ دِيْنَكَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ دِيْنَكَ , اللّهُمَّ أَعِزَّ الإسْلامَ وَالمُسْلِمِيْنَ وَأَذِّلَّ الشِّرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَانْصُرْ عِبَادَكَ المُؤْمِنِيْنَ, اللّهُمَّ اجْعَلْنَا فِى هَذَا الشَّهْرِ المُبَارَكِ مِنَ السُّعَدَاءِ المَقْبُوْلِيْنَ وَ لاَ تَجْعَلْنَا اللّهُمَّ مِنَ الأَشْقِيَاءِ المَرْدُوْدِيْنَ, اللَّهُمَّ إِنِّا نعُوذُبِكَ مِنْ البَرَصِ، وَالجُنُونِ، وَالجُذَامِ، وَمِنْ سَيِّءِ الأَسْقَامِ تَحَصَّنَا بِذِى الْعزَّةِ وَالْجَبَرُوْتِ وَاعَتَصَمْنَا بِرَبِّ الْمَلَكُوْتِ وَتَوَكَّلْنَا عَلَى الْحَيِّ الَّذِى لاَ يَمُوْتُ اللّهُمَّ اصْرِفْ عَنَّا هَذا الْوَبَاءَ وَقِنَا شَرَّ الرَّدَى وَنَجِّنَا مِنَ الطَّعْنِ والطَّاعُوْنِ وَالْبَلاَءِ بِلُطْفِكَ يَا لَطِيفُ يَا خَبِيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ رَبَّنَا لاتُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّاب رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالعَدْلِ وَالإحْسَانِ وَاِيْتَآءِ ذِيْ القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالمُنْكَرِ وَالبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ فَاذْكُرُوْا اللهَ العَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْا عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكَمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

About admin

Check Also

Opini: Kemuliaan ‘Ulamāʾ dengan Keahlian Berbeda 

   Kemuliaan ‘Ulamāʾ dengan Keahlian Berbeda Oleh : Muhammad Irfan, SHI. M. Sy. Dosen Fakultas …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »