::: Selamat datang di Media MUI Lampung Online "Suara Ulama dan Zu'ama untuk Umat" ::: Kritik, saran, artikel, dan iklan dapat dikirim ke email: redaksi@mui-lampung.or.id
Home / Breaking News / Opini: Mengapa Kita Suka Kehilangan Moment (Kesempatan)

Opini: Mengapa Kita Suka Kehilangan Moment (Kesempatan)

Mengapa Kita Suka Kehilangan Moment (Kesempatan)
Oleh : Harto Wibowo, SE., MM
Kabag TU Fakultas Syari’ah UIN Raden Intan Lampung

“Moment tidak akan pernah terulang untuk kedua kalinya”

“Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS; Al’Ashr :1-3)

Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata, ”Seandainya setiap manusia merenungkan surat ini, niscaya hal itu akan mencukupi untuk mereka.” [Tafsir Ibnu Katsir 8/499].

Jika kita cermati apa yang tersirat dari ayat Al-Qur’an di atas sesunggunya kita diingatkan betapa pentingnya waktu, mengingat sesungguhnya hidup di dunia ini hanya sebentar (sesaat) yang kita semua tahu bahwa setiap individu diberi waktu yang sama, sedangkan yang membedakan adalah amal jariyah kita masing-masing dan kapan kita menghadap kehadirat-Nya. Karena waktu sedikit, dan terus berjalan, siang dan malam silih berganti yang lalu biarlah berlalu yang ada adalah hari ini sedangkan hari esok pun kita semua tidak tahun, siapa yang bisa menjamin bahwa besok hari masih punya kita, sedangkan kewajiban yang seharusnya kita selesaikan menumpuk, maka kita harus bisa memaanfaatkan waktu yang tersedia dan memperdayakan secara optimal; sebagai contoh bahwa karena profesi kita berbeda-beda ada yang sebagai guru (dosen), maka kita mafaatkan untuk mendidik sebaik-baiknya, ada juga yang sebagai tenaga administrasi (pelayanan)/jasa maka kita manfaatkan sebaik-baiknya untuk melayanani dan lain sebagainya dari melayanani yang kecil dalam lingkup rumah tangga sampai yang besar lingkup Negara, semuanya setiap individu  memiliki profesi dan tanggung jawab kita masing-masing, sehingga kitapun harus bisa menempatkan pada posisi kita masing-masing dengan tetap mengamalkan apa yang kita ketahui. Sebagaimana firman Allah SWT ;

“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)?” (QS; 75 : 36)

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu. (QS; Muhammad.” (47) : 33)

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS; Al-Hasyr : 18)

Kesempatan atau yang sering disebut moment, bagi sebagian orang memaknai moment adalah kesempatan yang sangat berharga, seperti apa kata Imam Syafi’i Rahimullah, “Waktu ibarat pedang, jika engkau tidak menebasnya maka ialah yang menebasmu. … Membiarkan waktu terbuang sia-sia dengan anggapan esok masih ada waktu merupakan salah satu tanda tidak memahami pentingnya waktu, sama halnya istilah  “waktu adalah uang”, ini artinya siapa yang tidak bisa memanfaatkaan kesempatan (waktu) atau moment sama halnya menyai-nyiakan nikmat yang Allah SWT yang telah diberikan-Nya kepada manusia, demikian Allah SWT berfimran : “Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS : {14} : 34)

Ada dua kenikmatan yang banyak dilupakan oleh manusia, yaitu nikmat sehat dan waktu luang”. (Muttafaqun ‘alaih)

 Ibnu Mas’ud berkata, “Tiada yang pernah kusesali selain keadaan ketika matahari tenggelam, ajalku berkurang, namun amalanku tidak bertambah.” Al Hasan Al Bashri berkata, “Di antara tanda Allah berpaling dari seorang hamba, Allah menjadikannya sibuk dalam hal yang sia-sia sebagai tanda Allah menelantarkannya.”

Demikian betapa pentingnya waktu, sifat manusia yang suka lalai ini adalah penyakit hati yang sangat ganas, membuat manusia terbius dengan kehidupan dunia, akibat kelalain ini pula dunia pun dibuatnya rusak oleh tangan-tangan ataupun otak-otak manusia yang penuh keserakahan, sampai-sampai Allah SWT berfirman;

Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (QS; Al-Kahfi : 28)

Kembali kita di ingatkan akan kesungguhan (serius) dalam mengarungi kehidupan ini, sesungguhnya manusia memerlukan peringatan dan pelajaran bagian dari empiris dalam kehidupanya tentang permasalah yang dihadapinya baik itu persoalan agama atau persoalan keduniawian, yakni untuk sebuah perubahan  dalam kehidupannya, untuk apa? Yakni untuk sebuah kehidupan yang lebih baik. Karena sifat manusia yang terkadang lupa atau lalai dengan segala persoalannya sehingga sebuah nasehat atau apapun yang sifatnya mengingatkan kepada manusuia itu selalu ada, sebagaimana Allah SWT berfirman;

“Dan tetaplah memberi peringatan, karena Sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (QS; Adz-Dzariaat : 55)

Betapa konsep Islam sangat kompleks, berbicara tentang kehidupaan manusia, semenjak manusia dilahirkan sampai dia dipanggil kehadirat Ilahi, semua telah diatur dalam kitab sucinya Al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAW, peringatan yang dimaksud dalam Ayat di atas (QS; Adz-Dzariaat : 55) adalah bahwa karena sifat manusia yang suka lalai sehingga setiap waktu manusia selalu dingatkan kejalan yang benar (lurus), sebagai contoh setiap sholat Jum’at umat muslim di peringatkan akan pentingnya ketakqwaan dalam sebuah khotbah Jum’at, berikut ditambah juga dengan pengajian-pengajian (kajian) Islam yang terkadang ada pada moment-moment tertentu, sehingga dari waktu kewaktu selalu saja umat muslim di nasehatkan akan kebaikan-kebaikan sehingga ini demi umat muslim agar tidak tersesat yang pada akhirnya saat azal menjemput selamatlah ia.

Sayidina Ali bin Abi Thalib r.a berkata, ….”coba perhatikan dirimu baik-baik, tidak lama lagi kamu akan mencapai tujuan akhir semua manusia yaitu terbujur kaku dibawah lapisan tanah. Segala perbuatanmu akan diperlihatkan kepada dirimu di padang mahsyar, yaitu tempat dimana orang-orang yang telah berbuat aniyaya akan merintih menyesali diri; orang yang lalai akan sangat menyesali diri dan berharap seandainya ia dapat kembali ke dunia. Namun itu semua tiada berguna, karena kesempatan mengulang sungguh tidak akan pernah ada…..”

Karena hidup adalah pilihan, maka kehidupan adalah bagian dari perjalan menuju kesuksesan, atau kegagalan, membaca dari beberapa literature tentang hidup adalah pilihan merupakan sebuah ilham sekaligus inspirasi sehingga tersentak untuk mecoba mencari jalan keluar agar hidup ini tidak melulu menjalani rutinitas-rutinitas keseharian, yang terkadang kita suka kehilangan moment, sehingga hidup yang seyognya  mempunyai visi Surga menjadi tidak jelas.

Sebuah pembelajaran bagi manusia yang sesungguhnya manusia diciptakan di dunia untuk menerima ujian-ujian dan segala persoalan yang akan dihadapinya,

Performance seorang muslim adalah contoh bagi semua umat, karena segala momentum (kesempatan) selalu bisa dimanfaatkan untuk berbuat yang terbaik bagi keluarga dan lingkunganya, Imam Syahid Hasan Al Banna mengatakan, “ketahuilah, kewajiban itu lebih banyak dari pada waktu yang tersedia, maka bantulah saudaramu untuk menggunakan waktunya dengan sebaik-baiknya dan jika anda punya kepentingan atau tugas selesaikan segera.”

Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu Anhu berkata “Tidak ada istirahat untuk orang beriman sebelum bertemu dengan Rabbnya (maksudnya kematian)” (Al Maqashidul Hasanah), kekaguman ini dihususkan bagi orang-orang beriman yang artinya jangan pernah merasa puas dengan amal yang telah kita kerjakan, teruslah berbuat amal dan beramallah terus, tiada hari tanpa momentum, karena tidak ada seorangpun tahu kapan ia akan meninggal dunia, sebagaimana Imam Ahmad Rahimahullah di Tanya; “kapan (engkau beristirahat)? Beliau menjawab; “(Istirahat itu nanti saat aku meletakkan kaki ini di Jannah.” (Thabagat AlHanabiah 1/291).

“Dan Tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. dan Sesungguhnya akhirat Itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (QS; Al-Ankabut (29) : 64)

 Sahabat Ali bin Abu Thalib RA berkata, “Dunia pergi sambil mundur sedangkan akhirat datang sambil menghadap. Masing-masing dari keduanya punya anak. Jadilah kamu anak-anak akhirat, jangan menjadi anak-anak dunia. Sesungguhnya hari ini adalah amal, sedangkan besok adalah penghisaban.”

Saatnya kita berbenah diri dalam moment Covid 19, banyak hikmah yang didapat dan bahwa sesungguhnya protokol kesehatan yang di canangkan oleh Kementerian Kesehatan sesungguhny adalah sebuah konsep Islam yang sejak lama umat melaksankannya, sehingga moment Covid 19 ini mari kita semua menuju kepribadi-pribadi yang baru, banyak berkarya sebanyak-banyaknya dan beribadah lebih khusyu lagi serta beramal lebih ikhlas lagi, sehingga waktu (moment) ini tidak terbuang dengan percuma. Wallahualam

About admin

Check Also

Struktur Lengkap MUI Periode 2020-2025

Jakarta:  Sidang formatur tujuh belas orang diantaranya Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin (Ketua) Dr. H. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »