::: Selamat datang di Media MUI Lampung Online "Suara Ulama dan Zu'ama untuk Umat" ::: Kritik, saran, artikel, dan iklan dapat dikirim ke email: redaksi@mui-lampung.or.id
Home / Breaking News / Opini: New Normal, Siapkah Kita.

Opini: New Normal, Siapkah Kita.

New Normal, Siapkah Kita.
Oleh : Moh Abdul Ghofur
Guru MIN 1 Lampung Utara

Sudah satu pekan istilah new normal bergema di semua kanal media. Media elektronik maupun cetak memberitakan wacana tersebut mulai dari tahapan tahapan, konsep, hingga pertimbangan kesehatan dan ekonomi. Tak ketinggalan para pakar berpendapat mengenai sisi positif dan negatif diberlakukannya New Normal ada yang pro ada pula yang kontra.

Penerapan New normal pastinya menyangkut semua aspek kehidupan, bukan hanya dampak sektor ekonomi yang akan diselamatkan, sektor kesehatan yang harus siap dengan segala kemungkinan, namun sektor sektor lain juga berpengaruh salah satunya adalah pendidikan. Sektor ini merupakan bagian yang pertama kali menjadi perhatian saat meluasnya pandemi Covid-19. Langkah cepat Gubernur DKI untuk meliburkan sekolah kemudian diikuti oleh kepala daerah di seluruh Indonesia. Mobilitas siswa yang sangat tinggi diikuti dengan orang tua sebagai antar jemput dikhawatirkan dapat menyebarkan virus ini. Ditambah lagi belum adanya kesiapan fasilitas dan ketrampilan pihak sekolah dalam mencegah penularannya, makan di ambillah langkah untuk meniadakan pembelajaran langsung di sekolah.

Menghadapi New Normal ini, bagaimanakah kesiapan sekolah untuk tetap menjaga agar virus ini tidak menyebar, namun kegiatan belajar langsung dapat dilakukan.

Kegiatan siswa di sekolah sangat erat dengan kontak fisik, baik itu sesama guru, guru dengan siswa ataupun siswa dengan siswa. Mereka datang ke sekolah bukan hanya untuk belajar, namun untuk menyapa, bermain dan berlari. Kegiatan kontak fisik ini yang pastinya pertama kali harus kita atur agar tidak terjadi. Jika untuk usia anak SMP dan SMA mungkin sangat bisa dilakukan dengan aturan dan arahan dari sekolah, namun untuk tingkat SD atau bahkan TK nampaknya hal tersebut sangat sulit dilakukan.

Ketersediaan fasilitas juga memegang peran penting dalam terlaksananya Kehidupan new normal di sekolah. Fasilitas bukan hanya sekedar tempat cuci tangan dan sabun, tapi bagaimana sekolah selalu melakukan penyemprotan saat berakhirnya sesi pembelajaran, apalagi jika kelasnya akan digunakan lagi untuk shift berikutnya, maka butuh sterilisasi yang luar biasa oleh pihak sekolah. Penyediaan hand sanitizer bagi seluruh warga kelas, penggunaan masker atau face shield saat berada di lingkungan sekolah juga menjadi hal mutlak yang wajib diadakan.

Selanjutnya setelah fasilitas siap, maka dibuatlah sistem new normal. Sistem pertama Bagaimana perlakuan siswa saat akan memasuki sekolah, saat akan masuk kelas, saat di kelas, serta saat pulang sekolah. Sistem kedua adalah pengaturan shift agar tidak terjadi penumpukan siswa dalam kelas serta saat keluar masuk sekolah.

Prosedural siswa mulai dari datang sampai pulang bisa diberlakukan dengan menyemprotkan desinfektan saat akan masuk gerbang. Mencuci tangan dengan sabun sampai bersih. Melepas/membuang masker diganti dengan face shield atau masker yang baru. Baru diperbolehkan masuk sekolah. Siswa langsung masuk kedalam kelas, tanpa bersalaman dan tanpa menyentuh benda benda yang dirasa tidak perlu. Perlu diingat juga bahwa tak ada pinjam meminjam alat tulis selama proses pembelajaran. Saat pulang pun demikian, dilakukan hal yang sama saat masuk sekolah agar jika ada virus yang didapat dari sekolah dapat disterilkan.

Pengaturan sistem yang kedua yaitu shift adalah untuk menjaga jarak antar siswa. Sebagaimana kita ketahui bahwa kapasitas siswa dalam satu kelas di Indonesia sangatlah banyak, jika satu kelas SMP mempunyai jumlah siswa sebanyak 32 orang, bagaimana menjaga jaraknya, maka dilakukanlah pengaturan shift. Kepala sekolah dengan sedemikian rupa dapat mengatur agar dalam satu kelas hanya diisi oleh separo siswa saja agar tercipta jarak 1 meter antar siswa.

Perlu diatur juga perbedaan waktu siswa datang dan pulang ke sekolah agar tidak terjadi penumpukan dan panjang antrian siswa di depan gerbang.

Resiko dari segala penerapan kebijakan ini juga mengintai, namun pembelajaran yang dilaksanakan secara langsung tak dapat digantikan dengan canggihnya teknologi untuk Pembelajaran jarak jauh. Beratnya persiapan harus dihadapi. Tata kehidupan baru dalam dunia pendidikan harus dipersiapkan dengan baik dan matang.

About admin

Check Also

Opini: Kemuliaan ‘Ulamāʾ dengan Keahlian Berbeda 

   Kemuliaan ‘Ulamāʾ dengan Keahlian Berbeda Oleh : Muhammad Irfan, SHI. M. Sy. Dosen Fakultas …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »