::: Selamat datang di Media MUI Lampung Online "Suara Ulama dan Zu'ama untuk Umat" ::: Kritik, saran, artikel, dan iklan dapat dikirim ke email: redaksi@mui-lampung.or.id
Home / Breaking News / Opini: Tobat dan Penyesalan

Opini: Tobat dan Penyesalan

Tobat dan Penyesalan
Oleh: Yeni Yuliyanti
PAH Kabupaten Lampung Barat

Allah mencintai orang-orang yang bertobat dan mencintai orang-orang yang membersihkan diri. Bahkan, Kebahagiaan Allah atas hambanya melebihi kebahagiaan orang yang menemukan kembali barang yang sangat ia butuhkan, setelah hilang. Maha Besar Allah dan Maha Penyayang. Allah bahagia dengan tobat seseorang agar orang itu sukses disisi-Nya: “Bertobatlah kalian semua kepada Allah, wahai orang-orang mukmin, agar kalian mendapatkan kemenangan.” (QS. An-Nur: 31)

Tobat adalah ekspresi dari sebuah penyesalan yang melahirkan tekad dan tujuan, yang melahirkan ilmu bahwa maksiat menghalangi hamba dari Robbnya. Tobat adalah pembakaran di dalam hati, pengekangan nafsu, keluruhan di dalam hati, dan tetesan air mata. Yang demikian adalah awal perjalanan yang ditempuh oleh orang-orang yang tobat, modal orang-orang yang sukses, langkah awal mereka yang menghendaki Allah, dan kunci konsistensi mereka yang hatinya condong kepada Allah.

Penyesalan adalah sakit yang dirasakan oleh hati tatkala ia kehilangan sesuatu yang dicintai. Tanda-tandanya adalah kesedihan. Jika seseorang mengetahui bahwa anaknya atau sebagian orang yang dicintainya tertimpa musibah, maka ia akan bersedih, sehingga ia akan termenung.

Kekasih mana yang paling dicintai melebihi dirinya? Hukuman apa yang lebih dahsyat daripada neraka? Siapakah pemberi kabar yang lebih jujur daripada Allah dan Rasul-Nya? Seandainya dokter mengabarkan kepada seorang ayah bahwa penyakit anaknya tidak dapat disembuhkan dan anaknnya akan wafat karena penyakit tertentu, maka ia akan merasakan kesedihan yang panjang.

Jika rasa penyesalan semakin bertambah berat, maka penghapusan dosa semakin diharapkan. Tanda-tanda benarnya penyesalan adalah lembutnya hati dan banyaknya air mata yang keluar. Disebutkan dalam sebuah khabar, “Duduklah bersama orang-orang yang bertaubat, karena mereka adalah orang-orang yang paling lembut hatinya.” Memberi nasehat kepada orang-orang yang bertaubat lebih cepat diterima, karena mereka lebih dekat pada kelembutan hati.

Tanda-tanda penyesalan antara lain adalah pahitnya dosa yang lebih merasuk ke dalam hati pelakunya daripada manisnya, kemudian berubahlah kecondongan pada perbuatan dosa menjadi kebencian padanya, sehingga pelakunya akan menjauhinya.

Jika kamu bertanya, “Dosa-dosa adalah perbuatan yang disukai, maka bagaimana mungkin seorang Mukmin merasakan kepahitannya?” Secara sederhana jawabannya adalah: Orang yang bertobat merasakan pahitnya dosa, karena ia tahu bahwa setiap dosa rasanya seperti madu akan tetapi beracun.

Penyesalan terhadap dosa harus berlanjut hingga mati. Orang yang bertobat harus merasakan kepahitan tersebut pada segala bentuk perbuatan dosa, walaupun ia belum pernah melakukan perbuatan-perbuatan itu sebelumnya, sebagaimana orang yang meminum racun yang berada pada madu. Datangnya musibah bukan dari madu, akan tetapi dari apa yang dicampurkan kedalam madu itu (racun). Demikian pula dengan orang yang bertobat, musibah bukan datangnya dari perbuatan mencuri atau berzina, akan tetapi karena ia telah menyelisihi perintah Allah. Hal itu berlaku pada segala bentuk perbuatan dosa.

Junaid rahimahullah berkata, “Tobat mengandung tiga syarat, yaitu: penyesalan, tekad untuk tidak mengulanginya lagi, dan mengembalikan hak yang dizhaliminya.” Orang-orang yang tobat akan selalu tunduk, merintih dan menangis. Jika hamba-hamba merasa tenang, ia tidak bisa tenang. Jika para makhluk tenang, dia tidak bisa tenang. Ia selalu menghadap kepada Allah dengan kesedihan yang mendalam, hatinya gundah, kepalanya tertunduk dan kulitnya merinding. Jika ia mengingat dosa dan kesalahan-kesalahannya, maka ia mengalami kesedihan yang mendalam dan gemuruh hati yang luar biasa, yang menjadikan air matanya kering karena banyak menangis. Ia berkata kepada hatinya bahwa esok hari adalah saatnya untuk berlomba dan tidak memperbanyak hal duniawi agar dapat melewati jembatan jahanam dengan cepat.

Abu Abbas Ahmad bin Masruq berkata, “Pohon pengetahuan disiram dengan air pemikiran, pohon kelalaian disiram dengan air kebodohan, pohon tobat disiram dengan air penyesalan, sedangkan pohon cinta disiram dengan air infak, kesetiaan, dan kepedulian.

Ketika anda ingin memiliki pengetahuan, namun anda tidak mampu mengontrol tahapan-tahapan keinginan tersebut, maka anda berada dalam kejahilan. Ketika anda menuntut keinginan sebelum membenarkan kedudukan tobat, maka anda berada dalam kelalaian dari apa yang anda tuntut.

About admin

Check Also

Opini: Kemuliaan ‘Ulamāʾ dengan Keahlian Berbeda 

   Kemuliaan ‘Ulamāʾ dengan Keahlian Berbeda Oleh : Muhammad Irfan, SHI. M. Sy. Dosen Fakultas …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »