::: Selamat datang di Media MUI Lampung Online "Suara Ulama dan Zu'ama untuk Umat" ::: Kritik, saran, artikel, dan iklan dapat dikirim ke email: redaksi@mui-lampung.or.id
Home / Breaking News / Tahun Baru, Antara Harapan dan Tantangan

Tahun Baru, Antara Harapan dan Tantangan

Tahun Baru, Antara Harapan dan Tantangan

Nirwan Hamid, M.Pd.I

Pengurus MUI Kota Bandar Lampung

Pengurus GANAS ANNAR MUI Kota Bandar Lampung 

Allah Swt mengingatkan kepada manusia untuk selalu mengingat pentingnya waktu, pemanpaatan dan optimalisasi waktu. Bahkan karena pentingnya optimalisasi waktu tersebut, Allah Swt sampai bersumpah demi waktu. Dalam al-Quran surah an Nasr yang berbunyi:

وَالْعَصْرِ ﴿١﴾ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ﴿٢﴾ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Artinya:

“Demi masa, sesungguhnya manusia dalam keadaam merugi, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal soleh dan tolong menolong dalam kebenaran dan tolong menolong dalam kesabaran”. (QS. Al-‘asr/103:1-3)

Di dalam surat yang mulia ini Allâh Swt bersumpah dengan masa, dan ini menunjukkan pentingnya masa. Sesungguhnya di dalam masa terdapat keajaiban-keajaiban. Di dalam masa terjadi kesenangan dan kesusahan, sehat dan sakit, kekayaan dan kemiskinan. Jika seseorang menyian-nyiakan umurnya, seratus tahun berbuat sia-sia, bahkan kemaksiatan belaka, kemudian ia bertaubat di akhir hayatnya, dengan taubat yang diterima, maka ia akan mendapatkan kebahagiaan sempurna sebagai balasannya, berada di dalam surga selama-lamanya. Dia betul-betul mengetahui bahwa waktu hidupnya yang paling berharga adalah sedikit masa taubatnya itu. Sesungguhnya masa merupakan anugerah Allâh, Tidak ada cela padanya, manusia-lah yang tercela ketika tidak memanfaatkannya.

Waktu atau masa menurut kamus besar Bahasa Indonesia (1997) adalah seluruh rangkaian ketika proses perbuatan, atau keadaan berada atau lansung. Dalam hal ini, skala waktu merupakan interval dua buah keadaaan/kejadian. Waktu merupakan salah satu nikmat yang agung yang diberikan oleh Allah Swt kepada manusia. Islam menganjurkan untuk memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya supaya tidak termasuk orang yang merugi.

Pada tahun 2019 apa saja yang sudah kita yang kita capai dan perbuat? Seberapa banyak yang telah kita perbuat pada tahun 2019 ini bermanfaat untuk sesama manusia? Lalu kita berfikir lagi untuk tahun yang mendatang pada 2020 kira-kira resolusi apa yang akan kita perbuat? Sudahkah kita memirkan begitu banyak tantangan yang akan dihadapi, sudah siapkah diri kita untuk memberikan solusi-solusi dari tantangan tersebut atau paling tidak untuk diri kita sendiri?

Sebuah hadit Nabi Muhammad Saw yang artinya:

 “Siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin maka dia termasuk orang yang beruntung, siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin maka dia termasuk oang yang merugi, dan siapa yang hari ini lebih jelek dari hari yang kemarin maka dia termasuk orang yang terlaknat/celaka”

Gambaran yang jelas dari hadits ini adalah bahwa paling tidak kita mempunyai langkah-langkah konkrit yang harus dikerjakan untuk tahun yang akan datang. Kisi-kisi yang mudah untuk kita jalani dan kita mulai dari hal-hal kecil yang positif sehingga bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.

Banyak sekali dari kita membuang waktu dengan sia-sia, tapi kebanyakan dari kita tidak tau bahwa hal itu sia-sia  dan waktu itu tidak akan pernah terulang kembali. Allah Swt berfirman dalam surah al-hasyr yang artinya: hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah Swt dan hendaknya setiap hari dirinya memperhatikan apa yang diperbutnya untuk hari esok.

Imam al-Ghazali menerangkan masalah waktu adalah kehidupan. Karena itu Islam menjadikan kepiawaian dalam memanfaatkan waktu diantara indikasi keimanan dan tanda-tanda ketaqwaan. Orang yang mengetahui dan menyadari akan pentingnya waktu bearti memahami nilai hidup dan kebahagiaan. Membiarkan waktu terbuang sia-sia dengan anggapan esok masih ada waktu merupakan salah satu tanda tidak menghargai waktu. Padahal ia tidak pernah datang kedua kalinya atau tidak pernah terulang kembali. Pepatah Arab mengatakan “tidak akan pernah kembali waktu yang telah lampau”. Karena itu jangan sia-sia kan waktu:

Waktu muda sebelum datang masa tua

Waktu sehat sebelum datang sakit

Waktu kaya sebelum datang miskin

Waktu luang sebelum datang sempit

Waktu hidup sebelum datang mati

Optimalisasi waktu diharapkan akan menjadikan hidup kita akan lebih baik. Sehingga menyambut pergantian tahun akan berdampak positif bagi kehidupan kita, baik aspek ekonomi, politik dan etika. Karena ini semua merupakan leding sector yang urgen dalam kehidupan manusia yang utuh. Harapan bahwa ditahun baru ini. Akan membawa perubahan dalam hidup kita kearah yang lebih baik. Harapan bahwa mimpi yang selama ini belum diraih, tahun ini akan menjadi kenyataan. Akan tetapi antara harapan dan tantangan adalah dua sejoli yang tidak terpisahkan. Karena antara “harapan” dan terwujudnya impian ada “jurang” yang harus diseberangi. Ada jarak waktu yang harus ditempuh, serta ada resiko yang harus diambil. Inilah tantangan yang tidak bisa dielakkan. Dengan menyadarinya maka mental kita akan semakin siap bahwa perjalanan kedepan belum tentu lebih mulus dari tahun yang sudah kita lalui. Bahkan boleh jadi tahun ini perjalanan hidup yang akan kita tempuh akan lebih terjal dan curam dibandingkan yang sudah kita lalui tahun lalu. Maka persiapan mental merupakan modal utama untuk meraih impin dalam hidup kita. Seandainya mental kita belum siap maka kita perlu melakukan “reset” dalam cara berpikir kita. Karena langkah pertama untuk mengubah nasib adalah dengan cara mengubah atau me reset cara berpikir kita “change your mind and your life will be change” ubahlah cara berfikir kita maka hidup kita juga akan berubah.

Mengubah sikap mental, memerlukan kekuatan pikiran dan tindakan bahwa tidak ada yang mustahil dalam hidup ini. Sesuai dengan firman Allah Swt yang artinya:

“Sesungguhnya urusan-Nya apabila ia menghendaki sesuatu maka hanya berkata kepadanya jadilah maka jadialah ia”.(QS. Yasin:82)

Sesuatu menjadi tidak mungkin karena kita berpikir demikian, maka terjadialah sesuai dengan pikiran kita. Firman Allah Swt dalam suarah ar-ra’d ayat 11 yang artinya:

“Sesungguh-Nya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum hingga ia merubah nasib mereka sendiri”. (QS. Ar-ra’d:11). Maka perubahan akan terealisasi dengan tindakan yang nyata, tapi tindakan ini akan berhasil jika diawali oleh akaldan pikiran. All the miracles begins in the mind.

Banyak orang mengetahui urgensi nilai dan waktu dan mengetahui perkara-perkara yang bermanfaat yang seharusnya dilakukan untuk mengisi waktu, tepai karena lemah nya kamauan dan tekad mereka tidak melakukannya. Maka kita sebagai muslim wajib mengobati masalah ini dengan menggantinya dengan perbuatan-perbuatan yang bermanfaat. Serta janganlupa meminta petunjuk dan pertolongan dari Allah Swt.

Sebuah harapan akan membut kita lebih bersemangat atau setidaknya mencegah kita agar tidak terjerumus masuk kejurang keputusasaan. Karena bila orang sudah putus asa menghadapi berbagai masalah pelik dalam hidupnya maka sesungguhnya pada saat itu hidupnya sudah berakhir. Orang yang putus asa adalah ibarat orang yang sudah mati sebelum kematian sesungguhnya datang menjemputnya. Life is problem. No problem is means life is ended.

Ihdinas shiratal mustaqim..

Wallahu muwafiq ila aqwami thoriq

About admin

Check Also

Kusaeri Suwandi Dimanahkan Sebagai Koordinator Program KOIN Muktamar Ke 34 PCNU Kota Bandar Lampung

Bandar Lampung: Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menginstruksikan program KOIN Muktamar dalam rangka menyukseskan agenda …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »