::: Selamat datang di Media MUI Lampung Online "Suara Ulama dan Zu'ama untuk Umat" ::: Kritik, saran, artikel, dan iklan dapat dikirim ke email: redaksi@mui-lampung.or.id
Home / Breaking News / Banjir dalam Prespektif al Quran

Banjir dalam Prespektif al Quran

Banjir dalam Prespektif al Quran

Oleh M. Luqmanul Hakim H
Khodimul Bait Tahfidzul Quran “al Quds”

Banjir merupakan sebuah fenomena alam raya yang natural. Terjadinya banjir akibat dari sistem drainase yang buruk dan tata kelola ruang dan tempat yang tidak memperhatikan aturan. Indikasi banjir biasa terjadi pada musim hujan dengan intensitas hujan yang sangat tinggi dan bumi tanah tidak mampu menampung air sebagai resapannya krn telah tertutupi oleh bangunan dan hal lainnya.

Banjir, kekeringan (kemarau), hujan, gempa, tsunami, dan lain sebagainya, semua terjadi berdasarkan ketentuan Sunnatullah Sejak zaman azali “min Qabli An Nabra;aha”. Tidak satu pun yang akan terjadi di alam raya ini kecuali atas izin dan kehendak-Nya. Meskipun, perlu diingat bahwa kehendak-Nya tercermin pada hukum-hukum alam yang diciptakan-Nya. Apabila seseorang tidak menyesuaikan diri dengan kehendak-Nya yang tercermin dalam hukum-hukum alam itu, dia pasti mengalami kesusahan kesulitan serta kesukaran. Dia akan mengalami bencana, baik pada dirinya maupun sekitarnya.

Di dalam Al Quran, banjir pernah menelan korban jiwa kaum ‘Ad, negeri Saba’ dan kaumnya Nabi Nuh. Peristiwa ini dapat kita telaah dalam beberapa ayat di antaranya Surah Hud ayat 32-49, Surah al-A’raf ayat 65-72, dan Surah Saba ayat 15-16. Secara teologis, awal timbulnya banjir tersebut karena pembangkangan umat manusia pada ajaran Allah swt yang coba disampaikan para nabi. Bentuk sebuah pengingkaran terhadap ayat-ayat kebenaran Allah swt. Namun, secara ekologis, bencana tersebut bisa diakibatkan ketidakseimbangan dan disorientasi manusia ketika memperlakukan alam sekitar.

Mengambil Hikmah rentetan fenomena demi fenomena yang terjadi, pastinya dapat direnungi sebagai hasil perbuatan daripada tangan manusia. Allah SWT berfirman: “Bukanlah Kami yang menganiaya mereka, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri, (disebabkan) citra (kondisi) lingkungan mereka tidak mampu menolong di saat banjir, bahkan mereka semakin terpuruk dalam kehancuran”. (Q.S. Hud: 101).

Musibah banjir ini hanya wasilah agar kita semakin ingat dengan-Nya. Adakalanya Allah azza wa jalla memanggil kita dengan ayat-ayat QauliyahNya namun kita tak bergeming, tak mengindahkan, dan tak menggubrisNya. Hati ikan enggan dan acuh memahami dan memikirkannya Dan ketika di turunkan Ayat Kauniyah Allah Swt kita langsung berfikir bermuhasabah dan mendadak responsif tentunya dengan berbagai macam tipe. Ada manusia yang langsung menyalahkan pemimpin dan alam semesta, dan pula yang diam dan terus berdzikir kepasa Allah sambil terus mawas diri untuk kehidupannya kelak..

Maka mari menjadikan musibah yang menimpa sebagai jalan untuk kembali kepada Allah SWT dan jangan mengabaikan tanda-tanda kehadiran Allah dalam musibah yang menjadikan hati gersang dan kacau, dan mengundang jauhnya rahmat Allah. Mari kita berhenti saling menyalahkan dan menghujat sesama terutama pemimpin. Mari kita doakan pemimpin kita semoga Allah berikan kekuatan untuk menjalankan amanah dan tanggung jawabnya. Dan kita bersama sama muhasabah instropeksi diri bahwa semua itu hnya dunia. Didunia ini tak ada yang penting kecuali hnya manusia dengan jiwa jiwa yang tenang lagi bersih. Manusia berkualitas Imannya serta bertambah terus keyakinannya kepada Allah swt itulah nilai esensial dari Semua musibah..

About admin

Check Also

Kusaeri Suwandi Dimanahkan Sebagai Koordinator Program KOIN Muktamar Ke 34 PCNU Kota Bandar Lampung

Bandar Lampung: Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menginstruksikan program KOIN Muktamar dalam rangka menyukseskan agenda …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »