::: Selamat datang di Media MUI Lampung Online "Suara Ulama dan Zu'ama untuk Umat" ::: Kritik, saran, artikel, dan iklan dapat dikirim ke email: redaksi@mui-lampung.or.id
Home / Breaking News / Membaca al-Quran dengan Langgam Jawa

Membaca al-Quran dengan Langgam Jawa

20160821_061724_resized

Pertanyaan:

Aslm. Bapak/Ibu pengurus MUI Lampung saya ingin bertanya, bolehkah membaca al-al-Quran dengan Langgam Jawa?

Jawab

Membaca al-Quran merupakan ibadah yang sangat besar pahalanya, bahkan disunnahkan juga mengindahkan bacaannya. Sampai disini sebenarnya tidak ada persoalan. Persoalan kemudian timbul ketika membaca al-Quran dengan langgam non-Arab. Misalnya langgam Jawa.

Untuk menjawab pertanyaan ini maka kami akan menghadirkan pandangan para ulama tentang pembacaan al-Quran dengan pelbagai langgam. Asy-Syasyi dalam kitab al-Hilah mendokumentasikan tentang perbedaan para ulama dalam menyikapi pembacaan al-Quran dengan pelbagai langgam. Menurutnya ada dua kalangan ulama, ada yang membolehkan dan ada yang tidak.

وَقَالَ الشَّاشِيُّ فِي الْحِيلَةِ فَأَمَّا الْقِرَاءَةُ بِالْأَلْحَانِ فَأَبَاحَهَا قَوْمٌ وَحَظَرَهَا آخَرُونَ

“Asy-Syasyi dalam kitab al-Hilah, adapun membaca (al-Qur`an) dengan pelbagai langgam maka sebagian kalangan membolehkan sedang kalangan yang lain melarangnya. (Lihat ar-Ramli, Hasyiyah ar-Ramli, juz, 4, h. 344)

Sedangkan imam Syafii cenderung untuk memerinci. Menurutnya membaca al-Quran dengan pelbagai langgam adalah boleh sepanjang tidak merubah huruf dari nazhamnya. Namun apabila sampai menambahi hurufnya maka tidak diperbolehkan.

وَاخْتَارَ الشَّافِعِيُّ التَّفْصِيلَ وَإِنَّهَا إنْ كَانَتْ بِأَلْحَانٍ لَا تُغَيِّرُ الْحُرُوفَ عَنْ نَظْمِهَا جَازَ وَإِنْ غَيَّرَتْ الْحُرُوفَ إلَى الزِّيَادَةِ فِيهَا لَمْ تَجُزْ

“Asy-Syasyi dalam kitab al-Hilah, adapun membaca (al-Qur`an) dengan pelbagai langgam maka sebagian kalangan membolehkan sedang kalangan yang lain melarangnya. Imam Syafi’i memilih untuk merincinya, jika membacanya dengan pelbagai langgam yang tidak sampai merubah huruf dari nazhamnya maka boleh, tetapi apabila merubah hurufnya sampai memberikan tambahan maka tidak boleh” (Hasyiyah ar-Ramli, juz, 4, h. 344)

Pandangan imam Syafii sebenarnya ingin menegaskan bahwa boleh saja al-Quran dibaca dengan pelbagai langgam asalkan tidak merusak tajwid, mengubah orisinalitas huruf maupun maknanya. Pandangan imam Syafii tersebut kemudian diamini juga oleh ad-Darimi dengan mengatakan bahwa membaca al-Quran dengan pelbagai langgam adalah sunnah sepanjang tidak menggeser huruf dari harakatnya atau menghilangkannya. Sebab, menggeser atau menghilangkan huruf dari harakatnya adalah haram.

وَقَالَ الدَّارِمِيُّ الْقِرَاءَةُ بِالْأَلْحَانِ مُسْتَحَبَّةٌ مَا لَمْ يُزِلْ حَرْفًا عَنْ حَرَكَتِهِ أَوْ يُسْقِطُ فَإِنَّ ذَلِكَ مُحَرَّمٌ

Ad-Darimi berkata, membaca dengan pelbagai langgam itu disunnahkan sepanjang tidak menggeser huruf dari harakatnya atau menghilangkannya karena hal itu diharamkan”. (Hasyiyah ar-Ramli, juz, 4, h. 344)

Dengan mengaju pada penjelesan singkat ini, maka jawaban kami atas pertanyaan di atas adalah boleh membaca al-Quran dengan langgam Jawa tetapi ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam melantunkan bacaan Al-Qur`an dengan menggunakan langgam selain yang sudah populer, antara lain :

a.   Memperhatikan kaidah-kaidah ilmu tajwid, seperti panjang pendek bacaan, makhârijul hurûfwaqaf-ibtidâ`, dan lain sebagainya. Jangan sampai karena terbawa dan terpengaruh langgam, panjang pendek bacaan dan makhârijul hurûfmenjadi tidak tepat, sehingga berpotensi mengubah lafal dan merusak arti.

Salah baca karena pengaruh lagu, tercatat pertama kali dilakukan oleh al-Haitsam dan Ibnu A`yun, qari pada abad ke-2 hijriah. Dalam bacaan, keduanya sering terdengar mengubah huruf, seperti limasâkîn menjadilimiskîn,yang berpotensi merubah redaksi  dan merusak arti.

Menurut pakar hadis, Ibnu Hajar al-Asqalani, yang mensyarah kitab Shahîhal-Bukhârî,memperindah bacaan Al-Qur’an sangat dianjurkan. Tetapi hendaknya memperhatikan aturan baca (kaidah tajwid) agar terhindar dari kesalahan. Alasan inilah yang mendasari Lembaga Fatwa Mesir (Dâr al-Iftâ’) melarang lantunan Al-Qur`an dengan lagu bila ternyata bacaan tersebut tidak sesuai kaidah. Para ulama sepakat, jika bacaan dengan lagu itu melanggar kaidah ilmu tajwid dan qira’at maka tidak diperbolehkan.

وَحَكَى الْمَاوَرْدِيُّ عَنِ الشَّافِعِيِّ أَنَّ الْقِرَاءَةَ بِالْأَلْحَانِ إِذَا انْتَهَتْ إِلَى إِخْرَاجِ بَعْضِ الْأَلْفَاظِ عَنْ مخارجها حرم

Imam al-Mawardi meriwayatkan dari Imam Syafi`i, bacaan dengan lagu, bila dilantunkan secara tidak tepat makhrajnya, hukumnya haram (Fath al-Bari, 9/72).

b. Memperhatikan adab tilawah, antara lain disertai niat ikhlas karena Allah, menghadirkan kekhusyukan,tadabbur(penuh penghayatan dan pemaknaan/meresapi makna), ta’atstsurdan tajâwub (responsif terhadap pesan ayat yang sedang dibaca), sehingga merasakan kesedihan bahkan menangis saat dibaca ayat-ayat siksa dan kepedihan, misalnya.

c.  Tidak berlebihan (isrâf) dan tidak dibuat-buat (takalluf). Dalam segala sesuatu, seperti makan, minum, berpakaian dan sebagainya, Allah melarang manusia untuk berlebihan. Firman-Nya:

يَابَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَاتُسْرِفُوا إِنَّهُ لَايُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ(الأعراف: 31)

Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan (QS. Al-A`raf; 31).

Langgam bacaan yang berlebihan dan dibuat-buat akan berpotensi melanggar kaidah-kaidah bacaan (tajwid) dan mengalahkan bacaan untuk kepentingan lagu/ langgam. Imam Nawawi berkata,

أَجْمَعَ الْعُلَمَاءُ عَلَى اسْتِحْبَابِ تَحْسِينِ الصَّوْتِ بِالْقُرْآنِ مَا لَمْ يَخْرُجْ عَنْ حَدِّ الْقِرَاءَةِ بِالتَّمْطِيطِ فَإِنْ خَرَجَ حَتَّى زَادَ حَرْفًا أَوْ أَخْفَاهُ حَرُمَ

Para ulama sepakat tentang anjuran memperbagus suara bacaan Al-Qur`an, selama bacaan itu tidak keluar batas, dan kalau sampai keluar batas yang berakibat menambah atau mengilangkan/menyembunyikan huruf maka haram hukumnya.

d. Langgam yang digunakan hendaknya tidak berasal dari lagu atau langgam yang biasa digunakan dalam hal kemaksiatan atau menjauhkan seseorang dari ingatan kepada Yang Mahakuasa.

e. Tidak diringi dengan musik yang dapat mengganggu kekhusyukan pembaca dan atau pendengar, sehingga tujuan membaca Al-Qur`an, yaitu men-tadabburinya, tidak tercapai. Sebab Al-Qur`an adalahkalamullâhyang harus diperlakukan berbeda dengan kalam lainnya.

Demikian beberapa syarat dan ketentuan yang harus diperhatikan ketika menggunakan langgam Jawa atau Nusantara dalam melantunkan bacaan Al-Qur`an. Ketentuan ini juga berlaku bagi siapa pun yang akan menggunakan langgam apa pun.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Sikapilah perbedaan pandangan dengan bijak. Dan kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari pada para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq.

Dijawab oleh KH. Munawir (Ketua Komisi Fatwa MUI Lampung)

 

 

About admin

Check Also

Pendidik Sebaya dan Konselor Sebaya Tekan Kenalan Remaja

Bandar Lampung: Remaja adalah harapan bangsa. Namun permasalah remaja pun sangat menarik menjadi perbincangan saat …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »